Selasa, 19 Februari 2013

MODEL KEPEMIMPINAN

Model kepemimpinan didasarkan pada pendekatan yag mengacu ada hakikat kepemimpinan yang berlandaskan pada perilaku dan keterampilan seseorang yang berbaur kemudian membentuk gaya kepemimpinan yang berbeda.
Beberapa model yang menganut pendekatan ini diantaranya adalah sebagai berikut :
1.   Model Kepemimpinan Kontinum
Pemimpin mempengaruhi pengikutnya melalui beberapa cara, yaitu dari cara yang menonjolkan sisi ekstrim yang disebut dengan perilaku otokratis sampai dengan cara yang menonjolkan sisi ekstrim lainnya yang disebut dengan perilaku demokratis. Perilaku otokratis pada umumnya dinilai bersifat negatif, dimana sumber kuasa atau wewenang berasal dari adanya pengaruh pimpina, karena pemusatan kekuatan dan pengambilan keputusan ada pada dirinya serta memegang tanggung jawab penuh, sedangkan bawahannya dipengaruhi melalui ancaman dan hukuman. Selain bersifat negative, model kepemimpinan ini mempunyai manfaat antara lain, pengambilan keputusan cepat, dapat memberikan kepuasan pada pimpinan serta dapat memberikan rasa aman kepada bawahan. Selain itu, orientasi utama dari perilaku otokratis ini adalah pada tugas dan selalu memberikan arahan kepada bawahan (Wahab & Umiarso, 2009).
Perilaku demokratis, perilaku kepemimpinan ini memperoleh sumber kuasa atau wewenang yang berawal dari bawahan. Hal ini terjadi jika bawahan dimotivasi dengan tepat dan pimpinan dalam melaksanakan kepemimpinannya berusaha mengutamakan kerjasama dan team work untuk mencapai tujuan, dimana si pemimpin senang menerima saran, pendapat dan bahkan kritik dari bawahannya. Kebijakan disini terbuka bagi diskusi dan keputusan kelompok (Engkoswara & Komariyah, 2010).
Namun, kenyataannya perilaku kepemimpinan ini tidak mengacu pada dua model perilaku kepemimpinan yang ekstrim di atas, melainkan memiliki kecenderungan yan terdapat diantara dua sisi ekstrim tersebut (Umiarso, 2009)

2.   Model Kepemimpinan Ohio
Dalam penelitiannya, Universitas Ohio melahirkan teori dua factor tentang model kepemimpinan yaitu struktur inisiasi dan konsiderasi. Struktur inisiasi mengacu kepada perlaku pemimpin dalam menggambarkan hubungan antara dirinya dengan anggota kelompok kerja dalam upaya membentuk pola organisasi, saluran komunikasi, dan metode atau prosedur yang ditetapkan dengan baik. Adapun konsiderasi mengacu kepada perilaku yang menunjukkkan persahabatan, kepercayaan timal balik, rasa hormat dan kehangatan dalam  hubungan antara pemimpin dengan anggota stafnya (bawahan). Adapun contoh dari factor konsiderasi misalnya; pemimpin menyediakan waktu untuk menyimak anggota kelompok, pemimpin mau mengadakan perubahan, dan pemimpin bersikap bersahabat dan dapat didekati. Sedagkan contoh untuk factor struktur inisiasi misalnya pemimpin menugaskan tugas tertentu kepada anggota kelompok, pemimpin meminta anggota kelompok mematuhi tata tertib dan peraturan standar, dan pemimpin memberitahu anggota kelompok tentang hal-hal yang diharapkan dari mereka (Umiarso, 2009). 

3.   Model Kepemimpinan Likert (Likert’s Management System)
Likert mengembangkan suatu pendekatan penting untuk memahami perilaku pemimpin. Ia mengembangkan teori kepemimpinan dua dimensi, yaitu orientasi tugas dan individu. Melalui penelitian ini akhirnya Likert berhasil merancang empat system kepemimpinan seperti yang diungkapkan oleh Thoha yang dikutip oleh E. Mulyasa yaitu system otoriter, otoriter yang bijaksana, konsultatif dan partisipatif (Umiarso, 2009).
Rensis Likert dalam penelitianya menemukan bahwa pengawas yang berorientasi pada karyawan mempunyai semangat kerja dan produktifitas lebih baik daripada yang berorientasi pada pekerjaan. Berdasarkan kategori tersebut, disusun model empat tingkatan efektivitas manajemen yaitu :
Sistem 1, pemimpin membuat keputusan sendiri tentang pekerjaan dan memerintah anggota untuk melaksanakannya berdasarkan standard an metode yang telah ditetapkan.
Sistem 2, pemimpin membuat keputusan sendiri dan memerintahkannya kepada anggota tetapi sudah mulai memberi kebebasan kepada anggota untuk memberikan komentar terhadap perintah-perintah. Dalam batas tertentu, anggota diberikan fleksibilitas dalam melaksanakan tugas-tugasnya.
Sistem 3, pemimpin membuat keputusan dan perintah setelah dilakukan diskusi. Pelaksanaan tugas dapat dilakukan berdasarkan cara anggota sendiri. Diberikan penghargaan untuk memotivasi kerja anggota.
Sistem 4, pemimpin telah melibatkan kelompok dalam kepemimpinannya. Anggota dipartisipasikan secara penuh dan diberi kepercayaan untuk bersama-sama mengembangkan organisasi. Penghargaan terhadap anggota tidak semata-mata dalam bentuk fisik tapi juga aktualisasi diri (Engkoswara & Komariah 2010). 

4.   Model Kepemimpinan Managerial Grid
Teori ini dikemukakan oleh Robert K. Blake dan Jane S. Mounton yang membedakan dua dimensi dalam kepemimpinan, yaitu concern for people dan concern for production. Pada dasarnya teori managerial grid ini mengenal lima gaya kepemimpinan yang didasarkan atas dua aspek utama tadi, yaitu, pertama menekankan pada produksi (tugas) dan yang kedua menekankan pada hubungan antar individu ( Rosmiati dan Dedi, 2010).
Perhatian pada produksi (tugas) adalah sikap pemimpin yang menekankan mutu keputusan, prosedur, mutu pelayanan staf, efisiensi kerja dan jumlah pengeluaran. Sedangkan perhatian kepada hubungan antar individu  adalah sikap pemimpin yang memperhatikan anak buah dalam rangka pencapaian tujuan (Umiarso, 2010 ).

5.   Model Kepemimpinan Kontingensi (Fiedler)
          Model kepemimpinan Fiedler (1967) disebut sebagai model kontingensi karena model tersebut beranggapan bahwa kontribusi pemimpin terhadap efektifitas kinerja kelompok tergantung pada cara atau gaya kepemimpinan (leadership style) dan kesesuaian situasi (the favourableness of the situation) yang dihadapinya. Menurut Fiedler, ada tiga faktor utama yang mempengaruhi kesesuaian situasi dan ketiga faktor ini selanjutnya mempengaruhi keefektifan pemimpin. Ketiga faktor tersebut adalah hubungan antara pemimpin dan bawahan (leader-member relations), struktur tugas (the task structure) dan kekuatan posisi (position power). Hubungan antara pemimpin dan bawahan menjelaskan sampai sejauh mana pemimpin itu dipercaya dan disukai oleh bawahan, dan kemauan bawahan untuk mengikuti petunjuk pemimpin. (wordpress.com/2012/02/15)
Dalam teori kontingensi (kemungkinan) ini variabel-variabel yang berhubungan dengan kepemimpinan dalam pencapaian tugas merupakan suatu hal yang sangat menentukan pada gerak akselerasi pencapaian tujuan organisasi. Dalam memunculkan teori ini, perhatian Fiedler adalah pada perbedaan motivasional dari pemimpin.
Menurut Fiedler hubungan pemimpin maupun yang dipimpin merupakan variabel yang terpenting dalam menentukan situasi yang menguntungkan. Derajat struktur tugas merupakan masukan kedua sangat penting bagi situasi yang menguntungkan dan kedudukan kekuasaan pemimpin yang diperoleh melalui wewenang merupakan dimensi ketiga dari situasi.
Berdasarkan pendapat Fiedler tersebut, maka situasi organisasi atau lembaga dikatakan menguntungkan dalam arti menentukan keberhasilan pimpinan jika :
  • Hubungan pimpinan dengan anggota bawahan baik, pemimpin disenangi oleh anggota kelompoknya dan ditaati segala perintahnya 
  • Struktur tugas – tugas terinci dengan jelas dan dipahami oleh anggota kelompok, setiap anggota memiliki wewenang dan tanggung jawab masing-masing secara jelas sesuai dengan fungsinya. 
  • Kedudukan kekuasaan formal pemimpin kuat dan jelas sehingga memperlancar usahanya untuk mempengaruhi anggota kelompoknya.
Dilihat dari tingkatannya masing-masing variabel dibedakan menjadi dua kategori sebagai berikut:
  • Hubungan pemimpin-anggota baik dan tidak baik 
  • Derajat struktur tugas tinggi dan rendah 
  • Kedudukan kekuasaan Pimpinan kuat dan lemah
Dengan perbedaan kategori tersebut kombinasi ketiga variable melahirkan adanya delapan type atau gaya kepemimpinan seperti gambar diatas. 

1. Model Kepemimpinan Situasional, Model ini merupakan teori yang dikembangkan oleh Hesey dan Blanchard yang berusaha menyatukan bersama pemikiran teorisi utama untuk menjadi teori kepemimpinan situsional berdasarkan perilaku. Artinya teori ini menekankan pada ciri-ciri pribadi pemimpin dan situasi, mengemukakan untuk mencoba dan mengukur atau memperkirakan ciri-ciri pribadi ini dan membantu pimpinan dengan garis pedoman perilaku yang bermanfaat yang didasarkan kepada kombinasi dan kemungkinan yang bersifat kepribadian dan situsional (Umiarso & Wahab, 2009) 

2. Kepemimpinan Tiga Dimensi, Model kepemimpinan ini dikembangkan oleh Redin. Model tiga dimensi ini pada dasarnya merupakan pengembangan dari model yang dikembangkan oleh Universitas Ohio dan model managerial Grid. Perbedaan utama dari dua mdel ini adalah penambahan satu dimensi pada model tiga dimensi yaitu dimensi efektivitas, sedangkan dua dimensi lainnya, yaitu dimensi perilaku hubungan dan dimensi perilaku tugas tetap sama. Intisari dari model ini terletak pada pemikiran bahwa kepemimpinan dengan kombinasi perilaku hubungan dan perilaku tugas dapat saja sama, namun hal tersebut tidak menjamin memiliki efektifitas yang sama  pula (Engkoswara & Komariah, 2010). 

3. Kepemimpinan Combat, Model kepemimpinan combat diangkat dari strategi pertempuran yang sering kali digunakan para jendral dalam peperangan. Dalam pertempuran banyak sekali hal yang tidak pasti sama halnya dalam organisasi yang memunculkan ketidakpastian . Oleh sebab itulah, maka model kepemimpinan yang dikembangkan banyak terinspirasi oleh pertempuran yang banyak memunculkan tindakan-tindakan nekad yang kadang diperlukan dengan menyadari terjadinya kemungkinan keberhasilan gemilang atau bahkan kegagalan yang sempurna (Engkoswara & Komariah, 2010).

Model kepemimpinan Combat yang dideskripsi oleh J. Salusu adalah sebagi berikut :
  1. Seorang pemimpin bersedia menanggun resiko seperti halnya kura-kura yang berani maju dengan memunculkan lehernya keluar. Berusaha menjadi innovator dan untuk itu perlu secara terus menerus belajar. 
  2. Segera bertindak, karena tanpa bergerak seorang tidak bias memimpin. Mengulur waktu berarti memberi peluang masuknya berbagai kemungkinan yang dapat menggagalkan strategi mencapai tujuan dan sasaran. Seorang pemimpin harus tahu kapan bertempur kapan mundur. 
  3. Memiliki harapan yang tinggi karena dengan mengharap organisasi memperoleh lebih banyak, seorang pemimpin akan berhasil paling tidak setengahnya. Harapan itu tentu diiringi dengan kemauan yang keras dan tindakan-tindakan yang penuh perhitungan. Tanpa mengharap sesuatu sang pemimpin tidak akan pernah berhasil. 
  4. Pertahankan sikap positip, selalu berfikir yang baik, angkatlah derajat setiap orang yang bekerja disekitar organisasi, karena masing-masing mempunyai peranan yang berarti dalam kehidupan organisasi. 
  5. Selalu berada didepan dan tidak menyuruh orang lain untuk maju lebih dulu. Memimpin didepan artinya menarik, bukan mendorong. Seorang pemimpin tidak dapat memimpin dari belakang. Memang dalam melakukan perundingan, sering kali pemimpin tertinggi tidak langsung maju, tetapi biasa diserahkan kepada para ahli runding.