Model kepemimpinan
didasarkan pada pendekatan yag mengacu ada hakikat kepemimpinan yang
berlandaskan pada perilaku dan keterampilan seseorang yang berbaur kemudian
membentuk gaya kepemimpinan yang berbeda.
Beberapa model yang menganut pendekatan ini diantaranya adalah
sebagai berikut :
1. Model Kepemimpinan Kontinum
Pemimpin mempengaruhi
pengikutnya melalui beberapa cara, yaitu dari cara yang menonjolkan sisi
ekstrim yang disebut dengan perilaku otokratis sampai dengan cara yang
menonjolkan sisi ekstrim lainnya yang disebut dengan perilaku demokratis.
Perilaku otokratis pada umumnya dinilai bersifat negatif, dimana sumber kuasa
atau wewenang berasal dari adanya pengaruh pimpina, karena pemusatan kekuatan
dan pengambilan keputusan ada pada dirinya serta memegang tanggung jawab penuh,
sedangkan bawahannya dipengaruhi melalui ancaman dan hukuman. Selain bersifat
negative, model kepemimpinan ini mempunyai manfaat antara lain, pengambilan
keputusan cepat, dapat memberikan kepuasan pada pimpinan serta dapat memberikan
rasa aman kepada bawahan. Selain itu, orientasi utama dari perilaku otokratis
ini adalah pada tugas dan selalu memberikan arahan kepada bawahan (Wahab &
Umiarso, 2009).
Perilaku demokratis,
perilaku kepemimpinan ini memperoleh sumber kuasa atau wewenang yang berawal
dari bawahan. Hal ini terjadi jika bawahan dimotivasi dengan tepat dan pimpinan
dalam melaksanakan kepemimpinannya berusaha mengutamakan kerjasama dan team
work untuk mencapai tujuan, dimana si pemimpin senang menerima saran, pendapat
dan bahkan kritik dari bawahannya. Kebijakan disini terbuka bagi diskusi dan
keputusan kelompok (Engkoswara & Komariyah, 2010).
Namun, kenyataannya
perilaku kepemimpinan ini tidak mengacu pada dua model perilaku kepemimpinan
yang ekstrim di atas, melainkan memiliki kecenderungan yan terdapat diantara
dua sisi ekstrim tersebut (Umiarso, 2009)
2. Model Kepemimpinan Ohio
Dalam penelitiannya,
Universitas Ohio melahirkan teori dua factor tentang model kepemimpinan yaitu
struktur inisiasi dan konsiderasi. Struktur inisiasi mengacu kepada perlaku
pemimpin dalam menggambarkan hubungan antara dirinya dengan anggota kelompok
kerja dalam upaya membentuk pola organisasi, saluran komunikasi, dan metode
atau prosedur yang ditetapkan dengan baik. Adapun konsiderasi mengacu kepada perilaku
yang menunjukkkan persahabatan, kepercayaan timal balik, rasa hormat dan
kehangatan dalam hubungan antara
pemimpin dengan anggota stafnya (bawahan). Adapun contoh dari factor
konsiderasi misalnya; pemimpin menyediakan waktu untuk menyimak anggota kelompok,
pemimpin mau mengadakan perubahan, dan pemimpin bersikap bersahabat dan dapat
didekati. Sedagkan contoh untuk factor struktur inisiasi misalnya pemimpin
menugaskan tugas tertentu kepada anggota kelompok, pemimpin meminta anggota
kelompok mematuhi tata tertib dan peraturan standar, dan pemimpin memberitahu
anggota kelompok tentang hal-hal yang diharapkan dari mereka (Umiarso, 2009).
3. Model Kepemimpinan
Likert (Likert’s Management System)
Likert mengembangkan
suatu pendekatan penting untuk memahami perilaku pemimpin. Ia mengembangkan
teori kepemimpinan dua dimensi, yaitu orientasi tugas dan individu. Melalui
penelitian ini akhirnya Likert berhasil merancang empat system kepemimpinan
seperti yang diungkapkan oleh Thoha yang dikutip oleh E. Mulyasa yaitu system
otoriter, otoriter yang bijaksana, konsultatif dan partisipatif (Umiarso,
2009).
Rensis Likert dalam
penelitianya menemukan bahwa pengawas yang berorientasi pada karyawan mempunyai
semangat kerja dan produktifitas lebih baik daripada yang berorientasi pada
pekerjaan. Berdasarkan kategori tersebut, disusun model empat tingkatan
efektivitas manajemen yaitu :
Sistem 1, pemimpin membuat
keputusan sendiri tentang pekerjaan dan memerintah anggota untuk
melaksanakannya berdasarkan standard an metode yang telah ditetapkan.
Sistem 2, pemimpin membuat
keputusan sendiri dan memerintahkannya kepada anggota tetapi sudah mulai
memberi kebebasan kepada anggota untuk memberikan komentar terhadap
perintah-perintah. Dalam batas tertentu, anggota diberikan fleksibilitas dalam
melaksanakan tugas-tugasnya.
Sistem 3, pemimpin membuat
keputusan dan perintah setelah dilakukan diskusi. Pelaksanaan tugas dapat
dilakukan berdasarkan cara anggota sendiri. Diberikan penghargaan untuk
memotivasi kerja anggota.
Sistem 4, pemimpin telah
melibatkan kelompok dalam kepemimpinannya. Anggota dipartisipasikan secara
penuh dan diberi kepercayaan untuk bersama-sama mengembangkan organisasi.
Penghargaan terhadap anggota tidak semata-mata dalam bentuk fisik tapi juga
aktualisasi diri (Engkoswara & Komariah 2010).
4. Model Kepemimpinan
Managerial Grid
Teori ini dikemukakan
oleh Robert K. Blake dan Jane S. Mounton yang membedakan dua dimensi dalam
kepemimpinan, yaitu concern for people
dan concern for production. Pada
dasarnya teori managerial grid ini mengenal lima gaya kepemimpinan yang
didasarkan atas dua aspek utama tadi, yaitu, pertama menekankan pada produksi
(tugas) dan yang kedua menekankan pada hubungan antar individu ( Rosmiati dan
Dedi, 2010).
Perhatian pada produksi
(tugas) adalah sikap pemimpin yang menekankan mutu keputusan, prosedur, mutu
pelayanan staf, efisiensi kerja dan jumlah pengeluaran. Sedangkan perhatian
kepada hubungan antar individu adalah
sikap pemimpin yang memperhatikan anak buah dalam rangka pencapaian tujuan
(Umiarso, 2010 ).
5. Model Kepemimpinan
Kontingensi (Fiedler)
Model kepemimpinan Fiedler (1967)
disebut sebagai model kontingensi karena model tersebut beranggapan bahwa
kontribusi pemimpin terhadap efektifitas kinerja kelompok tergantung pada cara
atau gaya kepemimpinan (leadership style) dan kesesuaian situasi (the
favourableness of the situation) yang dihadapinya. Menurut Fiedler, ada tiga
faktor utama yang mempengaruhi kesesuaian situasi dan ketiga faktor ini
selanjutnya mempengaruhi keefektifan pemimpin. Ketiga faktor tersebut adalah
hubungan antara pemimpin dan bawahan (leader-member relations), struktur tugas
(the task structure) dan kekuatan posisi (position power). Hubungan antara
pemimpin dan bawahan menjelaskan sampai sejauh mana pemimpin itu dipercaya dan
disukai oleh bawahan, dan kemauan bawahan untuk mengikuti petunjuk pemimpin.
(wordpress.com/2012/02/15)
Dalam teori kontingensi
(kemungkinan) ini variabel-variabel yang berhubungan dengan kepemimpinan dalam
pencapaian tugas merupakan suatu hal yang sangat menentukan pada gerak
akselerasi pencapaian tujuan organisasi. Dalam memunculkan teori ini, perhatian
Fiedler adalah pada perbedaan motivasional dari pemimpin.
Menurut Fiedler hubungan
pemimpin maupun yang dipimpin merupakan variabel yang terpenting dalam
menentukan situasi yang menguntungkan. Derajat struktur tugas merupakan masukan
kedua sangat penting bagi situasi yang menguntungkan dan kedudukan kekuasaan
pemimpin yang diperoleh melalui wewenang merupakan dimensi ketiga dari situasi.
Berdasarkan pendapat
Fiedler tersebut, maka situasi organisasi atau lembaga dikatakan menguntungkan
dalam arti menentukan keberhasilan pimpinan jika :
- Hubungan pimpinan dengan anggota bawahan baik, pemimpin disenangi oleh anggota kelompoknya dan ditaati segala perintahnya
- Struktur tugas – tugas terinci dengan jelas dan dipahami oleh anggota kelompok, setiap anggota memiliki wewenang dan tanggung jawab masing-masing secara jelas sesuai dengan fungsinya.
- Kedudukan kekuasaan formal pemimpin kuat dan jelas sehingga memperlancar usahanya untuk mempengaruhi anggota kelompoknya.
Dilihat dari tingkatannya masing-masing variabel
dibedakan menjadi dua kategori sebagai berikut:
- Hubungan pemimpin-anggota baik dan tidak baik
- Derajat struktur tugas tinggi dan rendah
- Kedudukan kekuasaan Pimpinan kuat dan lemah
Dengan perbedaan kategori tersebut kombinasi ketiga variable
melahirkan adanya delapan type atau gaya kepemimpinan seperti gambar diatas.
1. Model Kepemimpinan Situasional, Model ini merupakan teori yang dikembangkan oleh Hesey dan Blanchard yang berusaha menyatukan bersama pemikiran teorisi utama untuk menjadi teori kepemimpinan situsional berdasarkan perilaku. Artinya teori ini menekankan pada ciri-ciri pribadi pemimpin dan situasi, mengemukakan untuk mencoba dan mengukur atau memperkirakan ciri-ciri pribadi ini dan membantu pimpinan dengan garis pedoman perilaku yang bermanfaat yang didasarkan kepada kombinasi dan kemungkinan yang bersifat kepribadian dan situsional (Umiarso & Wahab, 2009)
2. Kepemimpinan Tiga Dimensi, Model kepemimpinan ini dikembangkan oleh Redin. Model tiga dimensi ini pada dasarnya merupakan pengembangan dari model yang dikembangkan oleh Universitas Ohio dan model managerial Grid. Perbedaan utama dari dua mdel ini adalah penambahan satu dimensi pada model tiga dimensi yaitu dimensi efektivitas, sedangkan dua dimensi lainnya, yaitu dimensi perilaku hubungan dan dimensi perilaku tugas tetap sama. Intisari dari model ini terletak pada pemikiran bahwa kepemimpinan dengan kombinasi perilaku hubungan dan perilaku tugas dapat saja sama, namun hal tersebut tidak menjamin memiliki efektifitas yang sama pula (Engkoswara & Komariah, 2010).
3. Kepemimpinan Combat, Model kepemimpinan combat diangkat dari strategi pertempuran yang sering kali digunakan para jendral dalam peperangan. Dalam pertempuran banyak sekali hal yang tidak pasti sama halnya dalam organisasi yang memunculkan ketidakpastian . Oleh sebab itulah, maka model kepemimpinan yang dikembangkan banyak terinspirasi oleh pertempuran yang banyak memunculkan tindakan-tindakan nekad yang kadang diperlukan dengan menyadari terjadinya kemungkinan keberhasilan gemilang atau bahkan kegagalan yang sempurna (Engkoswara & Komariah, 2010).
1. Model Kepemimpinan Situasional, Model ini merupakan teori yang dikembangkan oleh Hesey dan Blanchard yang berusaha menyatukan bersama pemikiran teorisi utama untuk menjadi teori kepemimpinan situsional berdasarkan perilaku. Artinya teori ini menekankan pada ciri-ciri pribadi pemimpin dan situasi, mengemukakan untuk mencoba dan mengukur atau memperkirakan ciri-ciri pribadi ini dan membantu pimpinan dengan garis pedoman perilaku yang bermanfaat yang didasarkan kepada kombinasi dan kemungkinan yang bersifat kepribadian dan situsional (Umiarso & Wahab, 2009)
2. Kepemimpinan Tiga Dimensi, Model kepemimpinan ini dikembangkan oleh Redin. Model tiga dimensi ini pada dasarnya merupakan pengembangan dari model yang dikembangkan oleh Universitas Ohio dan model managerial Grid. Perbedaan utama dari dua mdel ini adalah penambahan satu dimensi pada model tiga dimensi yaitu dimensi efektivitas, sedangkan dua dimensi lainnya, yaitu dimensi perilaku hubungan dan dimensi perilaku tugas tetap sama. Intisari dari model ini terletak pada pemikiran bahwa kepemimpinan dengan kombinasi perilaku hubungan dan perilaku tugas dapat saja sama, namun hal tersebut tidak menjamin memiliki efektifitas yang sama pula (Engkoswara & Komariah, 2010).
3. Kepemimpinan Combat, Model kepemimpinan combat diangkat dari strategi pertempuran yang sering kali digunakan para jendral dalam peperangan. Dalam pertempuran banyak sekali hal yang tidak pasti sama halnya dalam organisasi yang memunculkan ketidakpastian . Oleh sebab itulah, maka model kepemimpinan yang dikembangkan banyak terinspirasi oleh pertempuran yang banyak memunculkan tindakan-tindakan nekad yang kadang diperlukan dengan menyadari terjadinya kemungkinan keberhasilan gemilang atau bahkan kegagalan yang sempurna (Engkoswara & Komariah, 2010).
Model kepemimpinan Combat yang dideskripsi oleh J. Salusu adalah sebagi berikut :
- Seorang pemimpin bersedia menanggun resiko seperti halnya kura-kura yang berani maju dengan memunculkan lehernya keluar. Berusaha menjadi innovator dan untuk itu perlu secara terus menerus belajar.
- Segera bertindak, karena tanpa bergerak seorang tidak bias memimpin. Mengulur waktu berarti memberi peluang masuknya berbagai kemungkinan yang dapat menggagalkan strategi mencapai tujuan dan sasaran. Seorang pemimpin harus tahu kapan bertempur kapan mundur.
- Memiliki harapan yang tinggi karena dengan mengharap organisasi memperoleh lebih banyak, seorang pemimpin akan berhasil paling tidak setengahnya. Harapan itu tentu diiringi dengan kemauan yang keras dan tindakan-tindakan yang penuh perhitungan. Tanpa mengharap sesuatu sang pemimpin tidak akan pernah berhasil.
- Pertahankan sikap positip, selalu berfikir yang baik, angkatlah derajat setiap orang yang bekerja disekitar organisasi, karena masing-masing mempunyai peranan yang berarti dalam kehidupan organisasi.
- Selalu berada didepan dan tidak menyuruh orang lain untuk maju lebih dulu. Memimpin didepan artinya menarik, bukan mendorong. Seorang pemimpin tidak dapat memimpin dari belakang. Memang dalam melakukan perundingan, sering kali pemimpin tertinggi tidak langsung maju, tetapi biasa diserahkan kepada para ahli runding.